KOMPAS vs TEMPO

Posted on

 

KOMPAS

KOMPAS semenjak semula saya kenal ialah media yang paling santun, hati-hati, paling moderat barangkali, sampai-sampai akhirnya saya berlangganan harian ini semenjak tahun 1970an hingga hari ini seakan-akan kecanduan. Bayangkan tetap berlangganan, sebenarnya berita-berita urgen dapat dibaca di Kompas Online dan media online lainnya, tergolong TEMPO Online. Seringkali KOMPAS melulu dibaca sepintas, kecuali bila ada kupasan menarik laksana tertangkapnya Nunun Nurbaety atau ulasan unik tentang sepakbola Real Madrid vs Barcelona atau berita-berita hangat mengenai kisruh PSSI pada zaman Nurdin Halid bahkan hingga hari ini. jika anda ingin memasang iklan koran tempo bisa langsung klik disini 

Saking santunnya seingat saya KOMPAS baru sekali dibreidel, dalam urusan ini tak boleh keluar untuk sedangkan waktu, pada mula 1978 bila tak salah ingat, ketika terjadi demonstrasi besar-besaran, khususnya di Jakarta dan Bandung. Waktu tersebut mahasiswa UI dan ITB masih menjadi lokomotif mahasiswa dalam mengkritisi Pemerintah.

Sekarang bagaimana ? KOMPAS telah berkembang biak, tidak saja harian KOMPAS, tetapi sudah terdapat pula percetakan, toko buku, Kompas Online, harian-harian di daerah, Kompasiana, KOMPAS TV, bisnis beda di luar media dan seterusnya yang saya tidak tahu. Khusus guna harian KOMPAS masih adalahmedia dengan gaya mencatat hati-hati sekali, dengan karikatur yang telah jauh lebih berani dan ikon karikatur lucu yang belum tergantikan Oom Pasikom. Wartawannyapun telah jauh lebih berani dibanding sebelum zaman reformasi. Misalnya Budhiarto Shambazy ketika diwawancarai suatu TV Berita ternama, berani menuliskan bahwa tertangkapnya Nunun Nurbaety itu ialah sebuah peristiwa yang mengundang tanda tanya sebab tertangkapnya gampang sekali, disebutkan pula bahwa penangkapan tersebut seolah-olah suatu sandiwara. Demikian kira-kira yang saya tangkap isi percakapan talk show yang dilangsungkan belum seminggu kemudian itu.

TEMPO

TEMPO menurut keterangan dari saya ialah sebuah majalah berita bergengsi dan pionir majalah berita di Indonesia, walaupun mungkin usulan pendirian majalah ini sedikit tidak sedikit dipengaruhi majalah TIME, bahkan cover majalah ini bertahun-tahun seingat saya sangat serupa TIME, dengan garis merah di ambang cover depan majalah. Pokoknya saya bangga menyimak TEMPO sebab bahasa Indonesianya bagus, ulasannya bagus, terlihat ilmiah. Mungkin sebab tahun 1970-an – 1980-an masih paling muda pasti bangga menjadi pembaca majalah yang tampak bergengsi itu.

TEMPO pun seingat saya pernah dibreidel sangat tidak dua kali oleh Pemerintahan Pak Harto. Pada peristiwa demo mahasiswa tahun 1978 TEMPO pun menjadi di antara korban yang dibekukan penerbitannya oleh Pemerintah. Tahun 1994 TEMPO pun dilarang terbit, saya tak sempat karen dalil apa, namun lumayan lumayan lama TEMPO tidak keluar sampai wartawannya tercerai berai ke mana-mana, contohnya Bambang Harymurti pernah menjadi Redaktur Harian Media Indonesia, sebelum pulang ke TEMPO sesudah majalah ini diizinkan terbit lagi.

TEMPO dalam 13 tahun terakhir tetaplah tampak berani memuat berita aktual, investigasinya menurut keterangan dari saya spektakuler berani dan besar bisa jadi benar, sebab sejauh ini tak terdapat pihak yang komplain atau berani komplain atas penyelidikan majalah TEMPO. Kekecualian ketika TEMPO sejumlah tahun kemudian memuat berita panas ‘Ada TW di Tenabang’. Saat itulah TEMPO digugat ke pengadilan oleh pengusaha berinisial TW tersebut. TEMPO kalah di Pengadilan.